Feeds:
Tulisan
Komentar

Menuju Negeri Impian

Ketika pikir itu tak lagi
menghitung,
Ketika rasa tak lagi,
senandungkan puisi
Saat itu ada harapan
Kita berdayung satu perahu
Menuju negeri impian

Jakarta, 2002

Tak Mengapa

Tak mengapa,
hari yang kita titi bersama
akan disimpan zamannya

Jangan menoleh, ketika kau ragu
hitungan bulan dalam puluhan
tak hendak membuat
kau dan aku saling paham

Tak perlu menunggu
berharap kau temukan dirimu
dalam diriku

Tak mengapa,
aku pun tak hendak
mengerti diriku dalam dirimu

Tak mengapa,
kau cari dirimu pada dirinya
aku temukan diriku hanya padaku

Padang, 2005

Hujan pagi itu
Sembunyikan mentari
Nan semalaman menunggu siang
Di lorong itu ada bangku
Siratkan rasa senang
Karena tak sepi lagi
Ada suara silang bicara
Sementara hujan tak hendak lagi
Siang mulai riang
Namun  angin tak ingin diam
Menyibakkan rambut halus di keningmu

Padang, 2003

Sebagai pengantar kado perkawinanku
Seorang kawan menulis:
“Buat temanku yang pergi ke arah barat
dan aku yang akan pergi ke arah timur”

Mulanya, rangkaian kata itu indah bagiku
Meski kuakui, tulisannya tak bergaya
Kini, tahun-tahun sudah di belakangku
Kata-kata itu menjadi bermakna
Matahari akan terbenam di barat
Sementara, di timur matahari akan selalu
mengawali sinarnya

Engkau sungguh jahat kawan
Aku yang menuju ke barat
Kini mulai tenggelam

Jakarta, 2002

Oleh: Zuriati

Sandhyakala ning Majapahit (selanjutnya disebut SNM) merupakan sebuah drama yang ditulis berdasarkan cerita karya sejarah (tentang Kerajaan Majapahit) oleh Sanoesi Pane. Hal itu diungkapkan dengan jelas pada bagian awal, yaitu bagian ‘Kata Bermula’ dalam naskah tersebut. Di situ diungkapkan bahwa cerita tersebut ditulis berdasarkan berita dalam Serat Kanda, Damar Wulan, Pararaton, dan Nagarakrtagama. Naskah ini pertama kali dimuat dalam majalah Timboel tahun VII, nomor 1/4, 3/4 dan 5/6, tahun 1932. Kemudian, naskah itu diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya, tahun 1971. Pada Januari 1975, naskah itu dicetak untuk kedua kalinya, dan naskah yang dipakai ini merupakan cetakan ketiga, Agustus 1975.

Cerita drama SNM ini terdiri atas pengantar cerita (Kata Bermula) dan lima bagian (babak). Kata bermula berisi tentang doa kepada Syiwabudha, agar lakon yang dipersembahkan itu berjalan dengan selamat. Selain itu, diceritakan pula asal (sumber) cerita, siapa tokoh Damar Wulan itu, dan harapan pujangga kepada generasi berikutnya untuk membuat naskah drama yang lebih baik.

Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah, seorang pahlawan di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena dituduh ingin menguasai kerajaan. Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi, dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam diri Damar Wulan mengalir dua bakat, yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria. Kedua bakat itulah yang membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa, seakan menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar Wulan pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan tenaganya untuk menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat kepada kerajaan. Dia berada dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang pendita. Kedua pilihan tersebut sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di Majapahit. Namun kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta berkat dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi sebagai kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga.

Mengapa tokoh Damar Wulan menghadapi dilema semacam itu? Pertanyaan itu sengaja diajukan untuk menghindari salah interpretasi terhadap pribadi tokoh utama ini. Jawaban dari pertanyaan itu akan sangat membantu pemahaman terhadap tokoh Damar Wulan, sebagai bagian yang penting dalam pemaknaan keseluruhan cerita SNM.

Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan untuk menjadi seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut membantu Adipati Tuban berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam perang itu, Damar Wulan memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang. Oleh karena itu pula, dia direkomendasi oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi. Hanya saja, setelah kembali ke Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba, dia menjadi bimbang. Dia menyadari, bahwa “ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju ke muka, memusnahkan segala yang menghambat daku” (hal. 24). Akan tetapi, setelah itu, dia senantiasa teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat anak dan ibunya menunggu bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan membuat jiwanya menderita, dan perasaan berdosa selalu membebaninya.

Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu ditolong lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah runtuh. Hal itu disebabkan oleh ‘bobrok’nya moral para pendita dan para bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna untuk menambah kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa. Para kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan sengsara.

Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi seorang pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak menghiraukan Majapahit yang ‘nyaris’ dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal itu dilakukan oleh Damar Wulan adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi. Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat menyadarkan para pendita dan para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan posisinya yang semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan yang sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja, keinginannya itu menjadi tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam keadaan negara yang kacau, dia tidak akan dapat melakukan perbaikan di bidang agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi oleh Damar Wulan. Namun, akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak Jingga ke Wirabumi.

Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia menang melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil mengembalikan moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi dia dimusuhi oleh para pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar Wulan dihukum mati, karena dituduh akan merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi. Meskipun, Damar Wulan mati, namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu dibuktikan oleh kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Islam. ***

Oleh: Zuriati

Agen sastra yang dimaksudkan di sini adalah agen dalam pengertian perantara antara pengarang dengan penerbit. Agen sastra ini berfungsi untuk menyalurkan karya-karya dari para pengarang kepada penerbit. Sebelum menyalurkan itu, terlebih dahulu pihak agen ini menyeleksi dan mengeditori karya-karya mana saja yang layak untuk disalurkan ke berbagai penerbit. Dengan meminjam istilah Sapardi Djoko Damono, agen sastra ini bertugas menyeleksi ‘karya-karya sampah’ yang dikirim oleh para pengarang. Dengan demikian, agen sastra itu haruslah terdiri atas orang-orang yang paham dan ahli dalam sastra.

Pemikiran ke arah mengupayakan sebuah badan yang bernama agen sastra itu belumlah menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat sastra di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat ini. Pendapat itu didukung oleh kenyataan, bahwa dalam berbagai kesempatan diskusi sastra, baik yang diadakan secara nasional maupun daerah –setidaknya, dalam diskusi sastra yang pernah saya ikuti, terutama di daerah ini– seingat saya belum pernah ada pembicaraan ke arah itu. Padahal, pembicaraan dan usaha ke arah pembentukan agen sastra itu sudah seharusnya dimulai, agar sastra Indonesia ini dapat berkembang dengan semestinya dan dengan kualitas yang terjaga di masa mendatang. Namun, jika hal itu salah, artinya sudah ada perbincangan dan usaha ke arah agen sastra ini, maka pemikiran ini diharapkan dapat mengingatkan dan menghidupkan kembali ide-ide yang pernah ada tentangnya.

Di dunia Barat, seperti Amerika, perkembangan dan kemajuan dalam penerbitan sastra sangat didukung oleh agen sastra ini. Jika dibandingkan dengan di sana, tentu kita sudah jauh terlambat dan jauh tertinggal. Namun, perbandingan itu tidak perlu dan tidak adil, karena kita hidup di Timur, lagi di Indonesia. Toh, kata terlambat dan tertinggal sudah menjadi hal yang biasa. Bukankah “Ambiak tuah ka nan manang, ambiak contoh ka nan sudah”, tidak ada salahnya. Tambahan pula, keberadaan agen sastra itu, di sini, sudah sangat perlu pada masa ini dan masa depan sastra Indonesia.

Dalam dunia sastra, kita mengenal berbagai sistem, di antaranya sistem pengarang, sistem karya, sistem pembaca, sistem kritikus, dan sistem penerbit. Di samping sistem pengarang dan sistem yang lainnya, penerbit merupakan satu sistem reproduksi sastra yang sangat menentukan. Penerbit sangat berperan dalam menentukan karya-karya mana saja yang akan diterbitkan. Tentu saja, karya yang akan diterbitkan itu sangat tergantung pada, misalnya sisi idiologis atau sisi komersial penerbit itu. Dengan demikian, keadaan itu akan sangat mendukung dan memperkuat, bahwa pemikiran mengenai keberadaan agen sastra itu perlu dan sangat mungkin.

Sebenarnya, dari segi minat dan kuantitas, dunia sastra sudah patut dikatakan sangat berkembang. Orang yang berminat terhadapnya dan jumlah pengarang terus bertambah hampir setiap harinya. Menurut informasi dari beberapa redaktur sastra di beberapa media massa di daerah ini, mereka ‘kebanjiran’ tulisan (puisi dan cerpen) setiap minggunya. Begitupun, banyak pengarang berkarya atau menulis dan semuanya sangat berkeinginan agar tulisan atau karyanya itu dipublikasikan (baca: dibukukan). Mereka berusaha sendiri mencari penerbit dengan cara mengirimkan karyanya tersebut ke berbagai penerbit. Menunggu jawaban dari penerbit yang dikirimi karya itu merupakan penantian yang sangat panjang, dan terkadang membuat putus asa sebagian dari mereka. Atau, bagi pengarang yang mempunyai banyak uang, mereka berusaha menerbitkan karyanya itu dengan biaya sendiri, dan kemudian menjualnya pula sendiri. Akan tetapi, terutama untuk hal yang terakhir persoalan kualitas karya yang diterbitkan itu tidak dapat diperbincangkan lagi secara objektif.

Daerah kita ini memiliki pengarang-pengarang yang berbakat dan sangat potensial. Hadirnya sebuah agen sastra akan dapat memacu lahirnya karya-karya sastra yang berkualitas. Hal itu berarti pula, bahwa ia juga akan dapat memacu perkembangan sastra Indonesia ke depan. Dengan adanya agen sastra ini, para pengarang tidak perlu lagi bersusah payah mencari penerbit. Atau, ia tidak perlu lagi mencari uang ke sana sini untuk dapat menerbitkan karyanya. Mereka hanya perlu melihat iklan atau menghubungi agen sastra tadi. Mereka tidak perlu lagi berbuat salah, karena mengirimkan karya kepada penerbit yang berbeda ideologi misalnya, dengan ideologi yang ada di dalam karya tersebut. Semua hal itu dapat dikerjakan oleh agen sastra tadi. Begitu juga, para penerbit tidak perlu lagi menyewa seorang yang sudah mempunyai nama di bidang sastra ini untuk menerbitkan sebuah karya sastra dari pengarang yang tidak terkenal (jika ada). Kualitas itu sudah diurus oleh badan yang bernama agen sastra ini.

Apakah agen sastra ini mungkin diadakan di daerah ini. Itu sangat mungkin. Di sini, kita mempunyai banyak ahli sastra dan sastrawan. Mereka sangat mungkin untuk dikumpulkan dan membentuk badan yang bernama agen sastra tadi. Secara tidak langsung pula, hadirnya agen sastra itu merupakan lapangan pekerjaan baru bagi para ahli dan para sastrawan masa depan. Semoga. ***

RONGGENG PASAMAN

Oleh: Zuriati

Ronggeng Pasaman merupakan satu tradisi lisan Minangkabau yang terdapat di Simpang Empat dan Simpang Tonang, Pasaman Barat, Sumatra Barat. Tradisi ini berbeda dengan bentuk-bentuk tradisi lisan Minangkabau lainnya yang sudah umum dan sudah banyak dibicarakan oleh para peneliti, seperti rabab Pasisie, rabab Pariaman, dendang Pauh, sedawat dulang, indang, dan si jobang. Perbedaan tersebut sangat dimungkinkan karena daerah tempat tradisi ronggeng ini hidup merupakan daerah perbatasan antara Sumatra Barat dengan Sumatra Utara. Masyarakatnya terdiri atas dua suku bangsa, yaitu Minangkabau dan Batak (Mandailing) dan memiliki dua bahasa pula, yakni bahasa Minangkabau dialek Pasaman dan bahasa Batak (Mandailing).

Dalam pergaulan sahari-hari, mereka memakai bahasa Minangkabau dialek Pasaman, atau campuran bahasa Minangkabau dialek Pasaman dengan bahasa Batak (Mandailing), atau juga bahasa Batak (Mandailing) saja. Bilamana saja mereka mempergunakan masing-masing bahasa ini tidak begitu penting dalam pembicaraan ini. Persoalan ini membutuhkan penelitian lebih lanjut dan tersendiri di bidang linguistik, khususnya sosiolinguistik. Namun begitu, perlu dinyatakan di sini bahwa kenyataan-kenyataan yang dikondisikan oleh masyarakat yang terdiri atas dua etnis ini terefleksikan pula dalam tradisi lisan mereka, seperti dalam ronggeng ini.

Kata `ronggeng’ mengingatkan pula pada satu genre yang spesifik dan terkenal di Jawa, khususnya Sunda. Apakah kedua tradisi ini secara kebetulan saja mempunyai nama yang sama, ataukah keduanya mempunyai hubungan? Dengan demikian, ronggeng Pasaman ini menjadi sangat menarik untuk dibicarakan, terutama dalam hal; Apakah kedua tradisi itu mempunyai hubungan dalam arti apakah kedua tradisi itu berasal dari salah satunya? Jika ya, bagaimana kemungkinan proses transmisi yang dilaluinya?

Apa Itu Ronggeng Pasaman?

Ronggeng Pasaman adalah satu tradisi lisan berupa seni pertunjukan yang terdiri atas pantun, tari atau joget, dan musik. Pantun sebagai unsur penting dalam tradisi ini didendangkan atau dinyanyikan oleh seorang penampil `wanita’ atau “ronggeng” sambil berjoget mengikuti irama lagu. Dengan demikian, penyebutan kata `ronggeng’ mengacu pada dua pengertian, yaitu ronggeng sebagai satu bentuk seni pertunjukan dan `ronggeng’ sebagai sebutan untuk pelaku (penampil) `wanita’ yang ahli dalam berpantun.

Ronggeng Pasaman sebagai sebuah seni tradisi mempunyai fungsi hiburan atau sebagai pelipur lara. Biasanya, seni tradisi ini dipertunjukkan pada malam hari, mulai pukul sepuluh malam sampai pagi menjelang Shubuh (kira-kira pukul lima pagi). Tempat pertunjukan, biasanya di lapangan terbuka atau di pentas yang dibuat khusus untuk pertunjukan dan dipertunjukkan dalam acara helat perkawinan atau dalam acara peringatan keagamaan, seperti pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Pantun merupakan unsur utama atau unsur inti dari tradisi ronggeng Pasaman. Jenis pantun yang dibawakan adalah pantun muda-mudi dan didendangkan atau dinyanyikan mengikuti irama lagu, seperti lagu “Cerai Kasih”, “Kaparinyo”, “Buah Sempaya”, “Tari Payung”, “Mainang”, “Alah Sayang” “Sinambang” dan “Si Kambang Baruih”. Dari beberapa irama lagu ini, irama lagu “Kaparinyo” lebih dominan di Simpang Empat, sedangkan irama lagu “Cerai Kasih” lebih dominan di Simpang Tonang. Pantun-pantun yang didendangkan atau dinyanyikan mengikuti irama-irama lagu tadi dilantunkan oleh `ronggeng’ dan penampil pria, sambil menari dan secara bergantian. Gerak tari yang mereka lakukan sesuai pula dengan irama lagu yang didendangkan.

Pantun-pantun yang didendangkan atau dinyanyikan tersebut adalah dalam bahasa Minangkabau dialek Pasaman (di Simpang Empat) dan campuran bahasa Minangkabau dengan bahasa Mandailing (di Simpang Tonang, sekarang ini). Perbedaan dalam pemakaian bahasa ini sangat dimungkinkan oleh letak daerahnya lebih dekat ke perbatasan Sumatra Utara dan dalam pergaulan sehari-hari mereka lebih sering memakai bahasa Batak (Mandailing) daripada bahasa Minangkabau dialek Pasaman.

Dari irama lagu dan bahasa yang dipergunakan dalam tradisi ronggeng Pasaman ini, dapat dikatakan bahwa inilah salah satu contoh seni tradisi yang ada di daerah perbatasan, yang lahir dan hadir di tengah-tengah masyarakat dari dua etnis yang berbeda. Kedua bentuk ini pulalah yang dikatakan sebagai kenyataan-kenyataan yang dikondisikan oleh percampuran masyarakat dari etnis yang berbeda, yang terefleksikan dalam salah satu seni tradisi masyarakatnya.

Penampil (pemain) dalam pertunjukan ronggeng Pasaman terdiri atas satu orang penampil `wanita’ atau “ronggeng”, tiga orang atau lebih penampil pria, dan lima orang pemain musik. Dengan demikian, penampil (pemain) dalam ronggeng dapat dibagi tiga, yaitu penampil `wanita’ atau “ronggeng”, penampil pria, dan pemain musik.

“Ronggeng: merupakan unsur yang terpenting di antara dua unsur lainnya. Kenyataan itu disebabkan penampil pria dapat berasal dari penonton, dan pemain musik dapat pula dijabat oleh banyak orang, artinya banyak orang yang dapat memainkan alat musik. Akan tetapi, tidak semua orang (pria) yang mahir dan ahli dalam berpantun dan juga tidak semua pria yang berkenan memakai pakaian dan berdandan seperti wanita.

Seorang “ronggeng” sebagaimana yang sudah dinyatakan di atas, haruslah seorang laki-laki yang pandai dan ahli dalam berpantun serta berpenampilan atau berdandan seperti wanita. Uleh karena keharusan ini pula, maka masyarakat pendukungnya ada yang mengatakan, bahwa makna kata “ronggeng” itu adalah seseorang yang juara pantun. Seorang juara pantun berarti pula seorang yang ahli dalam berpantun. Keahlian berpantun ini harus dimiliki oleh seorang “ronggeng” dimungkinkan oleh kenyataan, bahwa pantun-pantun yang didendangkan atau dinyanyikan dalam pertunjukan tidak dipersiapkan dari rumah, tetapi diciptakan dan digubah di arena pertunjukan. Dengan kata lain, pantun-pantun itu diciptakan dan digubah berdasarkan kondisi yang muncul di arena pertunjukan.

Di samping itu, seorang “ronggeng” juga mempunyai pamaga diri `pemagar diri’, artinya, seorang “ronggeng” itu mempunyai ilmu kebatinan. Ilxnu ini dipunyai adalah untuk dapat tampil dengan baik, dalam arti menjaga kemungkinan terjadinya berbagai hambatan selama pertunjukan berlangsung, terutama berkenaan dengan suara. Pamaga diri `pemagar diri’ ini dimaksudkan untuk menghindarkan dan menangkis gangguan ketika sedang dalam pertunjukan, agar tidak ditungkek `ditongkat’ orang lain. Atau, untuk mencegah terjadinya korek api panungkek lidah `korek api penongkat (penupang) lidah’, yang dapat menyebabkan suara “ronggeng” menjadi hilang.

Istilah ditungkek atau korek api panungkek lidah dimaksudkan untuk gangguan yang dikirim melalui batin (magic) oleh orang lain. Orang lain ini dapat saja berasal dari kalangan penonton, yang mempunyai tujuan tujuan tertentu dengan jalan suara “ronggeng” tidak keluar ketika tampil. Akibatnya, “ronggeng” tidak dapat berdendang dengan baik dan pertunjukan tidak dapat dilanjutkan. Jadi, pamaga diri `pemagar diri’ ini diperlukan untuk menghindarkan diri dari gangguan orang lain.

Berbeda dengan “ronggeng”, biasanya, penampil pria berasal dari kalangan penonton. Dengan demikian, siapa saja dapat menjadi penampil pria dalam tradisi ini. Siapa saja yang dimaksudkan adalah semua pria yang juga mempunyai kemampuan dalam berpantun. Akan tetapi, kemampuan berpantun penampil pria ini tidak sebagaimana yang dipunyai oleh “ronggeng”. Mereka dapat bertanya dan berdiskusi dengan penampil lainnya, ketika mendapat kesulitan dalam membalas atau menjawab pantun yang didendangkan oleh “ronggeng”. Atau, ketika sudah tidak dapat lagi mencipta dan menggubah pantun yang akan didendangkan kepada “ronggeng”, mereka dapat bertanya kepada penonton yang lain atau penonton yang lain itu membisikinya. Juga, mereka dapat saja berhenti dan menjadi penonton biasa kembali dan lalu digantikan oleh penonton yang lainnya.

Jumlah penampil pria ini paling sedikit tiga orang. Satu di antaranya berpantun dan berjoget dengan `ronggeng’ secara bergantian, sedangkan dua penampil yang lain hanya berj oget saja, secara bergantian pula. Artinya, penampil pria yang sedang menari berpasangan dengan “ronggeng” lah yang berkewaj iban membalas pantun-pantun yang didendangkan oleh “ronggeng” tadi. Dan, pantun-pantun yang didendangkan atau dinyanyikan itu bersifat bebas, tidak membentuk suatu kesatuan cerita.

Pemain musik dalam tradisi ronggeng relatif tertentu, seperti layaknya anggota sebuah grup seni tradisi. Biasanya, pemain musik ini paling sedikit terdiri atas lima orang; satu orang menggesek biola, dua orang memetik gitar, satu orang memukul rebana, dan satu orang lagi memainkan tamburin. Mereka bermain bersama mengiringi “ronggeng” dan penampil pria mendendangkan pantun-pantun dengan irama lagu, seperti yang sudah disebutkan di atas.

Dari awal hingga akhir pertunjukan, para penampil beristirahat beberapa kali. Jumlah berapa kali mereka beristirahat tidak tentu, tetapi tergantung pada kondisi suara masing-masing. Biasanya, setiap kali sesudah istirahat terjadi pertukaran irama lagu. Pertukaran irama lagu ini dapat pula berganti atas permintaan para penonton (khalayak). Bagi penonton (khalayak), pertukaran ilu diminta agar pertunjukan tidak monoton dan mereka tetap bersemangat mengikuti pertunjukan itu sampai akhir.

Dalam pertunjukannya, `ronggeng’ memakai baju kebaya atau baju kurung dengan selendang diselempangkan di badan atau dikerudungkan di kepala. Penari pria memakai baju biasa (pakaian sehari-hari) clan kadangkala memakai selendang yang dililitkan di leher (terutama di Simpang Empat). Begitu pula dengan pemain musik, mereka memakai pakaian sehari-hari. Khalayak

Berkenaan dengan penonton (khalayak), ada dua pandangan terhadap tradisi ronggeng Pasaman ini. Pertama, pandangan dari kaum tua (dari kalangan agama) yang menganggap bahwa tradisi ini tidak sesuai dengan Islam. Anggapan itu terutama disebabkan oleh adanya penampil pria yang berdandan menyerupai wanita. Namun begitu, kalangan tua (agama) ini tidak sampai melarang tradisi ini dipertunjukkan, dengan syarat tidak dipertunjukkan di dekat lokasi mesjid, mushala, atau surau, apalagi di dalam ketika tempat peribatan ini. Kedua, pandangan dari kaum muda yang menganggap bahwa tradisi ini hanyalah sebuah dunia hiburan. Oleh karenanya, adanya penampil `wanita’ yang diperankan oleh pria yang berdandan menyerupai wanita bukanlah sesuatu yang salah. Hal itu justru dapat menghindari terjadinya kekacauan dalam pertunjukan, karena jika penampil `wanita’ atau “ronggeng” itu diperankan oleh wanita , maka ketidaksesuaian dengan Islam (iuga adat) itu menjadi semakin bertambah. Tentu saja, semua pria berkeinginan untuk berpantun dan berjoget berpasangan dengan penampil wanita dalam pengertian yang sebenarnya.

Kedua pandangan di atas menyebabkan khalayak (penonton) ronggeng Pasaman ini umumnya terdiri atas kaum muda. Kadangkala juga, di awal pertunjukan dihadiri oleh anak-anak dan para wanita, dan mereka ini tidak akan bertahan hingga akhir pertunjukan.

Meskipun ronggeng Pasaman ini sudah agak jarang dipertunjukkan, tetapi ia masih dogemari oleh masyarakat pendukungnya, terutama kaum muda, sampai saat ini. Dengan demikian, dari pihak khalayak yang ikut mendukung dan menentukan nasib sebuah seni tradisi, maka kelangsungan hidupnya untuk bertahan terus belum perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, dari segi pewarisan penampil, dikhawatirkan tradisi ini tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Kekhawatiran itu muncul, mengingat pewarisan tradisi ini tidak berjalan dengan lancar, terutama dalam hal “ronggeng”. Jika, tidak terjadi pewarisan dari generasi penampil yang ada sekarang kepada generasi di bawahnya, maka tradisi ronggeng Pasaman ini akan hilang pula bersamaan dengan hilangnya (baca: meninggalnya) para penampil, khususnya “ronggeng” yang ada sekarang ini.

Barangkali, ada beberapa hal yang diperkirakan dapat menyebabkan mengapa pewarisan tradisi ronggeng Pasaman ini berjalan dengan kurang lancar. Pertama, anak muda atau pemuda sekarang ini merasa enggan apabila harus tampil dalam pakaian dan dandanan wanita. Keengganan ini lebih pada diri sendiri, karena merasa malu dan takut dikatakan masyarakat, terutama penonton (khalayak) sebagai seorang `banci’. Hal ini diperkuat oleh pernyataan seorang “ronggeng”, bahwa ia merasa hina menjadi “ronggeng” bila berhadapan dengan masyarakat dalam keseharian. Namun, ditambahkannya, perasaan itu akan hilang beberapa saat menjelang pertunjukan.

Jika dilihat dari sisi masyarakat pendukungnya, perasaan malu dan takut tadi kurang beralasan. Dikatakan demikian, karena masyarakat sendiri, apalagi penonton (khalayak) tidak memandang dan tidak menganggap pekerjaan sebagai “ronggeng” itu rendah atau hina. Seorang “ronggeng” itu tetap dapat diterima dan dapat melakukan pekerjaannya sebagai layaknya seorang laki-laki normal. “Ronggeng” itu hanyalah sebagai pekerjaan sampingan saja, maka ia tetap dapat melakukan pekerjaan yang lain sebagai mata pencahariannya, seperti bertani dan menambang emas.

Kedua, mereka itu hampir dapat dikatakan tidak mempunyai kemampuan dan tidak mempunyai kemahiran, serta tidak berminat dalam mencipta dan menggubah pantun secara spontan. Padahal, kemampuan dan kemahiran dalam mencipta dan menggubah pantun merupakan syarat utama bagi seorang “ronggeng’.

Transmisi Ronggeng

Dalam bahasa Minangkabau tidak dikenal dan tidak ditemukan adanya kata `ronggeng’. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa kata “ronggeng” berasal dari tradisi yang ada di Jawa, khususnya Sunda. Demikianlah, menurut Pak Usman, salah seorang pensiunan penilik kebudayaan di Pasaman Barat, tradisi ronggeng Pasaman mempunyai hubungan dengan tradisi ronggeng di Jawa (Sunda). Tentu saja, hubungan yang dimaksudkan­nya adalah bahwa tradisi ronggeng Pasaman berasal dari tradisi ronggeng Ji Jawa (Sunda). Bagaimana awal mula terbentuknya hubungan itu?

Berkenaan dengan pernyataan dan pertanyaan di atas, ada beberapa ?endapat mengenai bermulanya tradisi ronggeng Pasaman ini. Pertama, ronggeng dibawa atau didatangkan dari Jawa oleh tentara Belanda untuk menghibur para pekerja di perkebunan karet. Kedua, ronggeng itu diperkenalkan oleh para pekerj a perkebunan yang didatangkan dan berasal dari Jawa untuk menghibur sesamanya setelah lelah bekerja pada siang hari. Kedua pendapat tersebut di atas mempunyai peluang untuk dapat diterima. Alasannya, jika ronggeng itu didatangkan langsung dari daerah asalnya, Jawa, maka penampil `wanita’ atau `ronggeng’ itu adalah wanita dalam pengertian yang sebenarnya. Barangkali saja, dalam lingkungan perkebunan, memang seorang wanitalah yang menjadi `ronggeng’. Jadi, makna `ronggeng’ itu sama dengan yang ada di daerah asalnya. Lama­kelamaan, ia beradaptasi dengan lingkungan budayanya yang baru, atau ia diambil alih oleh lingkungan kebudayaannya yang baru, dengan cara menyesuaikannya dengan budayanya yang baru, yaitu budaya Minangkabau, terutama dalam hal “ronggeng” dan pantun.

Dalam budaya Minangkabau (berdasarkan agama clan adat) tidak dihalalkan seorang perempuan (wanita) tampil dimuka umum, apalagi menari dan berjoget dengan laki-laki. Seorang perempuan mempunyai kedudukan yang terhormat dan mulia berdasarkan agama (Islam) dan adat. Jadi, mempertontonkan wanita dalam suatu pertunjukan tradisi masyarakatnya dianggap sebagai sesuatu perbuatan yang tabu. Oleh karena itu pula, dalam seni tradisi Minangkabau lakon wanita itu diperankan oleh laki-laki.

Namun, pendapat yang pertama dengan alasan-alasan di atas kurang dapat diterima, karena menurut Pak Usman, dalam kenyataannya dari dulu -sej ak ronggeng dikenal di daerah Pasaman- sampai sekarang “ronggeng” itu adalah seorang pria. Dengan begitu, pendapat yang tersebut kedua lebih dapat diterima. Dengan kata lain, para pekerja perkebunan yang berasal dari Jawalah yang berkemungkinan besar memperkenalkan tradisi itu, dan ketika diperkenalkan itu, ia langsung disesuaikan dengan budaya yang baru, yaitu budaya Minangkabau.

Jadi, sejak ronggeng itu diperkenalkan oleh para pekerja itu, sejak itu pula ia menj adi bagian yang khas dari tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Pasaman, khususnya Pasaman Barat, sampai sekarang ini. Ronggeng Pasaman tidak sama atau sama sekali berbeda dengan ronggeng Jawa. Mengapa demikian? Pantun sebagai unsur utama atau unsur inti dalam ronggeng Pasaman menunjukkan kenyataan itu. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam ronggeng Pasaman ini, yakni bahasa Minangkabau dan atau campuran bahasa Minangkabau dengan bahasa Mandailing, memperkuat pemyataan di atas. Apalagi, irama musik pengiringnya adalah irama musik Melayu dan “ronggeng”nya adalah seorang pria berpakaian wanita. ***

Penulis adalah Staf Pengajar Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.